LAPORAN HIDROLOGI 1


BAB I
Latar Belakang Masalah.
Air merupakan komponen dari lingkungan. Peradaban manusia berjaya mengikuti sumber air ,demikian pula semua mahkluk hidup di dunia ini membutuhkan air. Oleh sebab itu air merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan ini, disamping sebagai kebutuhan hidup air juga dapat berfungsi sebagai sarana dalam membantu kehidupan manusia dalam menuju perkembangan.
Keberadaan akan air saat ini tidak saja sebagai kebutuhan konsumsi semata namun air juga memiliki berbagai kegunaan dalam aplikasinya bagi manusia. Air jika tidak dikelola secara baik dan bijaksana juga akan memberikan dampak yang buruk bagi mahkluk hidup di bumi, hal ini terjadi bilamana bumi kehilangan atau semakin berkurangnya sumberdaya air, dan dampak buruk tersebut dapat pula terjadi akibat dari adanya proses pencemaran sehingga rusaknya kualitas air sehinga mahkluk hidup tidak dapat lagi mengambil manfaat air bersih dan sehat sebagai kebutuhan hidup.
Oleh karena itu studi tentang air dirasakan semakin penting, terutama di negara-negara berkembang yang masih masalah budaya dan teknologi dalam penelolaan air yang sesuai dengan lingkungannya. Cabang ilmu yang mempelajari tentang air tersebut adalah Hidrologi. Hidrologi ini berusaha memberi pemecahan bagi masalah – masalah lingkungan sekitar yang berkaitan dengan air.
Hidrologi adalah ilmu tentang seluk beluk air di bumi, kejadiannya, peredarannya dan distribusinya, sifat alam dan kimianya, serta reaksinya terhadap lingkungan dan hubungan dengan kehidupan,. Dalam perkembangannya setiap ilmu biasanya juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat, seiring dengan hal tersebut maka banyak pula berbagai macam ilmu pengetahuan bermunculan cabang-cabang ilmu yang baru dimana satu sama lain masih memiliki mata rantai kesatuan dari ilmu induknya. Hal tersebut juga terjadi pada ilmu Hidrologi damana kemajuan yang pesat terhadap ilmu ini, telah memunculkan berbagai macam cabang ilmu dari hidrologi itu sendiri, seperti; hidrometeorologi, hidrologi air permukaan, hidrogeologi, manajemen limbah dan kualitas air, dimana air memiliki peranan penting. Hidrologi juga merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah, distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lain sebagainya
Mata air merupakan salah satu objek kajian dalam hidrologi  yang erat kaitannya dengan lingkungan sekitar kita, untuk mengkaji lebih jauh mengenai studi pendidikan hidrologi di lingkungan perguruan tinggi akan lebih efektif apabila  terjadi keseimbangan dan integrasi antara teoritik dan praktik di lapangan. Laporan ini merupakan salah satu bukti hasil integrasi kedua aspek  tersebut. Secara spesifik objek kajian dalam laporan ini merupakan hasil pengolahan data lapangan yang berkaitan dengan mata air.
















BAB II
STUDI LITERATUR
SUNGAI
Sungai ialah tempat berkumpulnya air yang berasal dari hujan yang jatuh di daerah tangkapan-nya dan mengalir dengan takarannya. Apabila berkumpulnya air hujan tersebut dengan tidak mengalir maka disebut danau atau waduk atau embung atau telaga, secara umum kolam penampungan air hujan.Sungai tersebut merupakan drainase alam yang mempunyai jaringan sungai dengan penampangnya, mempunyai areal tangkapan hujan atau disebut Daerah Aliran Sungai (DAS). Bentuk jaringan sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi geologi, kondisi muka bumi DAS, dan waktu (sedimentasi, erosi/grusan, pelapukan permukaan DAS, pergerakan berupa tekktonik, vulkanik, longsor lokal dll).
Bentuk Jaringan erat kaitannya dengan bentuk batas DAS. Perbedaan bentuk DAS dengan luasan yang sama dan hujan yang sama akan memberikan waktu puncak dan puncak yang berbeda tetapi volume hidrograf akan sama.
          

Air hujan yang jatuh ke bumi, sebagian menguap kembali menjadi air di udara, sebagian masuk ke dalam tanah, sebagian lagi mengalir di permukaan. Aliran air di permukaan ini kemudian akan berkumpul mengalir ke tempat yang lebih rendah dan membentuk sungai yang kemudian menalir ke laut.
Pada tahun  1880 an seorang geologist berkebangssan Amerika, William Davis Morris, berpendapat bahwa sungai dan lembahnya ibarat organisme hidup. Sungai berubah dari waktu ke waktu, mengalami masa muda, dewasa, dan masa tua. Menurut Davis, siklus kehidupan sungai dimulai ketika tanah baru muncul di atas permukaan laut. Hujan kemudian mengikisnya dan membuat parit, kemudian parit-parit itu bertemu sesamanya dan membentuk sungai. Danau menampung air pada daerah yang cekung, tapi kemudian hilang sebagai sebagai sungai dangkal. Kemudian memperdalam salurannya dan mengiris ke dasarnya membentuk sisi yang curam, lembah bentuk V. Anak-anak sungai kemudian tumbuh dari sungai utamanya seperti cabang tumbuh dari pohon. Semakin tua sungai, lembahnya semakin dalam dan anak-anak sungainya semakin panjang.
Gambar perubahan penampang sungai dibawah ini menunjukkan umur sungai.
riv-bayi.jpg (5429 bytes)
riv-muda.jpg (5291 bytes)
riv-dewasa.jpg (5689 bytes)
riv-tua.jpg (5066 bytes)
Sungai masih bayi. Sempit dan curam
Sungai muda. Anak sungainya bertambah
Sungai tua. Daerah alirannya semakin melebar dan berkelok
Sungai sudah tua sekali.


          Robert E. Horton, seorang consulting hydrolic engineer, mengklasifikasikan sungai berdsarkan tingkat kerumitan anak-anak sungainya. Saluran sungai tanpa anaknya disebut sebagai "first order". Sungai yang mempunyai satu atau lebih anak sungai "first order" disebut saluran sungai "second order". Sebuah sungai dikatakan "third order" jika sungai itu mempunyai sekurang-kurangnya satu anak sungai "second order". Sungai Amazon dan Congo, yang terbesar di dunia, diklasifikasikan sebagai sungai dengan "12th order"  atau "13th order". Pola drainase.gif (40148 bytes)Lihat gambar di halaman berikutnya.








Lebih dari 98 persen dari semua air di daratan tersembunyi di bawah permukaan tanah dalam pori-pori batuan dan bahan-bahan butiran. Dua persen sisanya terlihat sebagai air di sungai, danau dan reservoir. Setengah dari dua persen ini disimpan di reservoir buatan. Sembilan puluh delapan  persen dari air di bawah permukaan disebut air tanah dan digambarkan sebagai air yang terdapat pada bahan yang jenuh di bawah muka air tanah. Dua persen sisanya adalah kelembaban tanah. (perhatikan gambar di bawah ini)
Watertable2.jpg (41162 bytes)
Bentuk pola jaringan sungai (Howard, 1967)


Struktur dan density dari jaringan sungai
      Pola jaringan sungai diawali dari titik sumber, ruas sungai dan dibatasi oleh titik sambungan dengan ruas sungai lainnya.
      Exterior link: ruas awal yang di batasi oleh titik sumber dan diahiri oleh titik sambungan
       interior link: ruas yang dibatasi oleh dua titik sambungan
      Maksimum order untuk masing-masing sungai A, B, C adalah  W = 3, 2, 4.
      Besaran magnitude di interior link (ruas dalam) adalah merupakan penjumlahan mangnitude dua anak sungai yang bersatu di titik sambungan sebelah udik ruas tersebut
      Maksimum nilai magnitude (n) adalah sama dengan jumlah exterior link (ruas luar), n-1 jumlah total interior link (ruas dalam)
      jumlah total ruas (link) dalam jaringan sungai
y = 2n-1.
      Strukture jaringan sungai sangat mempengaruhi faktor :
     Hidrologi
     proses sedimentasi dalam sungai
     perubahan bentuk saluran (luasan das yang kecil)

Pe ialah rata-rata jumlah link dari sumbernya sampai outlet
Rb = Nu/Nu + 1
Keterangan :
Rb       : Indeks tingkat percabangan sungai
Nu       : Jumlah alur sungai untuk orde ke u
Nu+1   : Jumlah alur sungai untuk orde ke u + 1
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan oleh STRAHLER dapat disimpulkan bahwa :
  1. Apabila nilai Rb lebih kecil dari 3 maka pada alur sungai tersebut akan mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat, sedangkan penurunannya berjalan dengan lambat
  2. Apabila nilai Rb lebih besar dari 5 maka pada alur sungai tersebut mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat, demikian juga penurunannya  akan berjalan dengan cepat
  3. Apabila nilai Rb antara 3 dan 5 maka pada alur sungai tersebut mempunyai kenaikan dan penurunan muka air banjir yang tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lambat

Profil Memanjang Sungai

Morfologi Sungai

Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi di lapangan. Kemampuan pengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS.
Pengukuran Kecepatan Arus Sungai, perlu diingat bahwa distribusi kecepatan aliran di dalam alur tidak sama arah horisontal maupun arah vertikal. Dengan kata lain kecepatan aliran pada tepi alur tidak sama dengan tengah alur, dan kecepatan aliran dekat permukaan air tidak sama dengan kecepatan pada dasar alur.

distribusi-kec-aliran.jpg

Distribusi Kecepatan Aliran
A : teoritis
B : dasar saluran kasar dan banyak tumbuhan
C : gangguan permukaan (sampah)
D : aliran cepat, aliran turbulen pada dasar
E : aliran lambat, dasar saluran halus
F : dasar saluran kasar/berbatu



Debit  Aliran Sungai
Proses hidrologi seperti Hujan, Evapotranspirasi, Water Surplus, Infiltrasi, base flow, direct run off merupakan faktor – faktor yang mempengaruhi debit aliran pada suatu DAS. Selain proses hidrologi diatas
Debit aliran sungai atau besarnya aliran sungai adalah volume aliran yang mengalir melalui suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Biasanya dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/det). Aliran adalah pergerakan air di dalam alur sungai. Pengukuran yang dilaksanakan suatu pos duga air memiliki sebuah tujuan antara lain untuk membuat grafik debit dari pos duga tersebut. Variable yang terdapat pada grafik tersebut sebagai berikut :
1.      Fungsi tinggi muka air dengan debit.
2.      Fungsi kemiringan muka air dengan debit.
3.      Fungsi perubahan muka air dengan debit.
4.      Dan fungsi dari faktor lainnya.
Pada dasarnya pengukuran debit adalah pengukuran luas penampang basah, kecepatan dan tinggi muka air. Persamaan dasar yang digunakan  adalah :
Text Box:   

Dengan ketentuan :
Q = Debit (m3/det).
A = Luas penampang basah (m2).
V = Pehitungan Kecepatan pada saluran terbuka (m/det).
Secara umum pengukuran kecepatan pada  aliran terbuka dapat dilakukan dengan metode dua, tiga, dan satu titik. Perhitungan kecepatan untuk semua metode dapat menggunakan formula sebagai berikut :






Text Box: Keterangan :
V1    = Kecepatan satu titik
V2    = Kecepatan dua titik
V3    = Kecepatan tiga titik
Vo2  = Kecepatan pada titik 0,2 dari permukaan
Vo6  = Kecepatan pada titik 0,6 dari permukaan
Vo8  = Kecepatan pada titik 0,8 dari permukaan

Text Box:

 






Oleh beberapa ahli persamaan dasar diatas dikembangkan menjadi :
Ø  Text Box: R =  radius hidraulik (A/O)
A =  Luas Penampang 
O = keliling basah (meter)
C=  koefisien kekasaran dinding saluran 
n =  koefisien kekasaran di dalam saluran bersih dan lurus 
K =  koefisien kekasaran saluran terbuka berbentuk trapesium
S =  Kemiringan Saluran 

Text Box:  Rumus Manning


Ø  Text Box:  Rumus Strickler


Ø  Text Box:  


Rumus Antoine de Chezy


Rumus-rumus dan besaran koesisien kekasaran
ü  Text Box:  Bazin:




ü  Text Box:  E. Ganguillet - W.R Kutter





Ada beberapa metode pengukuran debit aliran sungai yaitu :
·                     Area-velocity method
·                     Tracer method
·                     Slope area method
·                     Weir dan flume
·                     Volumetric methodArea
a. Velocity Method
Pada prinsipnya adalah pengukuran luas penampang basah dan kecepatan aliran. Penampang basah (A) diperoleh dengan pengukuran lebar permukaan air dan pengukuran kedalaman dengan tongkat pengukur atau kabel pengukur. Kecepatan aliran dapat diukur dengan metode : metode current-meter dan metode apung.
Current meter adalah alat untuk mengukur kecepatan aliran (kecepatan arus). Ada dua tipe current meter yaitu tipe baling-baling (proppeler type) dan tipe canting (cup type). Oleh karena distribusi kecepatan aliran di sungai tidak sama baik arah vertikal maupun horisontal, maka pengukuran kecepatan aliran dengan alat ini tidak cukup pada satu titik. Debit aliran sungai dapat diukur dengan beberapa metode. Tidak semua metode pengukuran debit cocok digunakan. Pemilihan metode tergantung pada kondisi (jenis sungai, tingkat turbulensi aliran) dan tingkat ketelitian yang akan dicapai.
Pengukuran Debit dengan Cara Apung (Float Area Methode)
Prinsip : kecepatan aliran (V) ditetapkan berdasarkan kecepatan pelampung (U)
·         luas penampang (A) ditetapkan berdasarkan pengukuran lebar saluran (L) dan kedalaman saluran (H)
·         debit sungai (Q) = A x V atau A = A x k dimana k adalah konstanta
Q = A x k x U
Q = debit (m3/det)
U = kecepatan pelampung (m/det)
A = luas penampang basah sungai (m2)
k = koefisien pelampung
jenis2pelampung.jpg
Pengukuran Debit dengan Current-meter
Prinsip :
·       kecepatan diukur dengan current meter
·       luas penampang basah ditetapkan berdasarkan pengukuran kedalaman air dan lebar permukaan air. Kedalaman dapat diukur dengan mistar pengukur, kabel atau tali.
Pengukuran :
Ada 4 cara pengukuran kecepatan aliran yang disajikan dalam Tabel berikut :
Cara Pengukuran Kecepatan Aliran
Keterangan :
tabel.jpg

Vs di ukur 0,3 m dari permukaan air
Vb di ukur 0,3 m di atas dasar sungai
Kecepatan aliran dihitung berdasarkan jumlah putaran baling-baling per waktu putarannya (N = putaran/dt). Kecepatan aliran V = aN + b dimana a dan b adalah nilai kalibrasi alat current meter. Hitung jumlah putaran dan waktu putaran baling-baling (dengan stopwatch).

A.    METODE SATU TITIK
a.      Metode 0,60 Kedalaman
Dalam cara ini pengukuran kecepatan aliran dilakukan pada titik 0,6 kedalaman aliran dari permukaan air. Hasil pengukuran pada titik 0,6 kedalaman aliran ini adalah merupakan kecepatan rata-rata pada vertikal yang bersangkutan.
Cara ini digunakan dengan syarat-syarat :
  1. Apabila kedalaman air antara 0,25 – 0,76 meter
  2. Apabila aliran sungai membawa banyak sampah sehingga sulit untuk mengukur pada titik 0,2 kedalaman aliran
  3. Apabila aliran ada suatu sebab lain sehingga alat ukur arus tidak dapat diletakkan pada titik 0,8 kedalaman aliran
  4. Apabila tinggi permukaan air sungai cepat berubah dan pengukuran harus dilaksanakan secara cepat
Kecepatan aliran dihitung dengan rumus:
V = v.0,60
Keterangan :
V         : Kecepatan aliran rata-rata (m/det)
V0,6    : kecepatan pada 0,60 kedalaman (m/det)

b.      Metode 0,50 Kedalaman
Kecepatan aliran diukur pada 0,50 kedalaman. Kecepatan rata-ratanya adalah :
V = c1 x v0,50
Keterangan :
V         : kecepatan aliran rata-rata (m/det)
V0,50     : kecepatan pada 0,50 kedalaman (m/det)
C1           : konstanta di tentukan dengan kalibrasi (biasanya 0,96)

c.       Metode 0,20 Kedalaman
Kecepatan aliran rata-rata di vertikal yang di ukur dapat dihitung dengan rumus :
V = c2 x v0,20
Keterangan :
V         : Kecepatan aliran rata-rata (m/det)
V0,20     : kecepatan pada 0,20 kedalaman (m/det)
C2        : Konstanta ditentukan dari kalibrasi



B.     METODE DUA TITIK
Pada metode ini pengukuran kecepatan aliran dilakukan pada 0,2 dan 0,8 titik kedalaman aliran dari permukaan air. Kecepatan aliran rata-ratanya diperoleh dengan merata-ratakan kecepatan aliran yang diukur pada kedua titik tersebut, yang dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
V = (v0,20 + v0,80)/2
Keterangan :
V         : Kecepatan aliran rata-rata (m/det)
V0,20     : kecepatan aliran pada 0,20 kedalaman (m/det)
V0,80     : kecepatan aliran pada 0,80 kedalaman (m/det)

C.    METODE TIGA TITIK
Pengukuran kecepatan aliran dilakukan pada titik 0,2; 0,6 dan 0,8 kedalaman aliran dari permukaan air. Sebenarnya cara ini merupakan gabungan antara dua titik dengan cara pada 0,6 kedalaman. Kecepatan rata-rata tiap vertikal diperoleh dengan merata-ratakan hasil pengukuran pada 0,2 dan 0,8 kedalaman aliran kemudian hasil rata-ratanya dirata-ratakan lagi dengan hasil pengukuran pada 0,6 kedalaman aliran.
Rumusnya adalah :
V = ½ (v0,6 + (v0,2+v0,8/2))
Keterangan :
V         : kecepatan aliran rata-rata (m/det)
V0,2      : Kecepatan aliran pada 0,2 kedalaman (m/det)
V0,6      : Kecepatan aliran pada 0,6 kedalaman (m/det)
V0,8      : Kecepatan aliran pada 0,8kedalaman (m/det)

D.    METODE LIMA TITIK
Pada metode lima titik kecepatan aliran rata-ratanya dihitung dengan rumus :

V = Vs + 3v0,2 + 2v0,6 + 3v0,8 +vb/10

Keterangan :
V         : Kecepatan aliran rata-rata (m/det)
Vs        : Kecepatan aliran dipermukaan (m/det)
Vb        : Kecepatan aliran didasar (m/det)
V0,2      : Kecepatan aliran pada 0,2 kedalaman (m/det)
V0,6      : Kecepatan aliran pada 0,6 kedalaman (m/det)
V0,8      : Kecepatan aliran pada 0,8kedalaman (m/det)
Alasan cara ini digunakan adalah sama dengan cara tiga titik agar diperoleh data yang lebih baik kualitasnya.
Pengukuran Debit dengan Metode Kontinyu
Current meter diturunkan kedalam aliran air dengan kecepatan penurunan yang konstant dari permukaan dan setelah mencapai dasar sungai diangkat lagi ke atas dengan kecepatan yang sama. Pengukuran Debit dengan Metode Kontinyu Current meter diturunkan kedalam aliran air dengan kecepatan penurunan yang konstant dari permukaan dan setelah mencapai dasar sungai diangkat lagi ke atas dengan kecepatan yang sama.

menghitung-luas-seksi-dengan-mean-section.jpg
menghitung-luas-seksi-dengan-mid-section.jpg


Panjang, Lebar dan Kemiringan DAS
a.       Panjang dan Lebar
Panjang DPS adalah sama dengan jarak datar dari muara sungai ke arah hulu sepanjang sungai induk. Lebar DPS dihitung berdasarkan luas DPS dibagi panjangnya.
b.      Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng antara dua lokasi ketinggian dapat dihitung dengan persamaan berikut :
Id = i/w
Keterangan :
Id  : Kemiringan lereng (m/km)
I     : Interval kontur (m)
w  : a/e
a   : luas bidang diantara dua kontur (km2)
e   : panjang rata-rata dua kontur (km)



Kerapatan DAS
Kerapatan sungai adalah suatu angka indek yang menunjukkan banyaknya anak sungai didalam suatu DPS. Indek tersebut dapat diperoleh dengan persamaan sebagai berikut :
Dd = L/A
Keterangan :
Dd       : Indek kerapatan Sungai (km/km2)
L          : jumlah panjang sungai termasuk panjang anak-anak sungainya (km)
A         : Luas DPS (km2)
Ada suatu batasan yang menyatakan besarnya indek kerapatan sungai, yaitu apabila nilai Dd :
  1. kurang dari 0,25 km/km2 maka disebut rendah
  2. 0,25 – 10 km/km2 disebut sedang
  3. 10 – 25 km/km2 disebut tinggi
  4. lebih dari 25 km/km2 disebut sangat tinggi
Titik-Titik Pengukuran Current Meter








INFILTRASI

Infiltarsi adalah pergerakan air dari atas permukaan tanah ke dalam permukaan tanah yang disebabkan oleh gaya gravitasi dan kapilaritas, air yang menginfiltrasi itu mula-mula diserap untu meningkatkan kelembaban tanah, dan selebihnya akan turun ke dalam tanah melalui proses perkolasi mengalir kesamping.

Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi:
1.   Dalamnya genangan air di atas permukaan tanah
2.   Kadar air dalam tanah
3.   Tebal lapisan yang jenuh
4.   Pemapatan oleh curah hujan
5.   Penyumbatan oleh bahan-bahan halus
6.   Pemapatan oleh manusi dan hewan
7.   Tumbuh-tumbuhan

Persamaannya :                                  


Text Box: i  = WS . if
i  = (P-Ea) . if
if = koefisien infiltrasi
 




GROUNDWATER STORAGE
Infiltrasi terus terjadi sampai zona tampungan air tanah(groundwater storage), besarnya groundwater storage dipengaruhi oleh :
1.   Infiltrasi (i), semakin tinggi infiltrasi maka groundwater storage semakin besar
2.   Konstanta resesi aliran bulanan (k), adalah proporsi dari aliran tanah bulan lalu yang masih ada bulan sekarang, nilai k cenderung lebih besar dalam bulan basah.
3.   groundwater storage bulan sebelumnya (GSom), nilai ini diasumsikan sebagai konstanta awal dengan anggapan bahwa water balance merupakan siklus tertutup.

Persamaannya :
Text Box: GS = [ 0.5 (1+k)+(k . GSom)]

 


Metode Mock adalah metode untuk memprediksi debit yang didasarkan pada water balance, oleh sebab itu batasan-batasan water balance harus dipenuhi, salah satunya adalah bahwa perubahan groundwater storage selama kurun waktu tahunan tertentu adalah nol (ΔGS = 0)
ΔGS adalah selisih antara groundwater storage bulan yang ditinjau dengan groundwater storage bulan sebelumnya. (ΔGS = GS – GSom)

BASE FLOW
Base Flow adalah aliran dasar sungai, Base Flow merupakan selisih antara infiltrasi dengan perubahan groundwater storage. Karena water balance merupakan siklus tertutup dengan periode tahunan tertentu  maka ΔGS = 0, sehingga jumlah base flow akan sama dengan jumlah infiltrasi.

Persamaannya : 


Text Box: BF = I - ΔGS
 










KESIMPULAN DAN SARAN
1.     Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari laporan ini adalah sebagai berikut :
a)      Untuk mengukur debit suatu sungai dapat menggunakan Velocity arca method sedangkan untuk mengukur kecepatan aliran dapat menggunakan metode apung, yang kemudian data kecepatan di dapat dikalikan pada luas penampang sungai sehingga menghasilkan debit. Debit aliran sungai yang diteliti = sungai buatan = sungai alami
b)      Pad sungai buatan yang bentuk penampangnya datar dan lurus turbulensinya relatif kecil sehingga kecepatan laju pelampung hampir sama penghitungan luas dan debitnya pun lebih mudah, sebaliknya pada sungai alami.
c)      Melalui pengukuran water pass kita dapat mengetahui kemiringan lahan aliran air dan kemiringan lahan aliran air disekitar lokasi.
d)     Pemetaan bentuk dan kedalaman pada saluran cibereum dan sub das cibereum dihasilkan dari data-data azimut dan jarak tempat serta hasil pengukuran kedalamannya.


2.     Saran
Adapun saran penulis pada laporan ini adalah sebagai berikut :
Ø  Secara khusus :

a)      Kerjasama dalam dan antar kelompok harus terus dijaga dan ditingkatkan.
b)      Kekompakan di lapangan harus diterapkan.
c)      Sebelum melakukan praktikum setiap peserta praktikum harus memahami dan menguasai materi praktikum itu sendiri.
d)     Praktikum harus dilaksanakan  dengan penuh perencanaan dan persiapan awal yang matang.
e)      Bimbingan dan pengawasan pembimbing selama praktikum harus lebih merata dan terawasi.



Ø  Secara umum :
Hidup manusia seharusnya seperti aliran air sungai. Semakin menuju ke laut, semakin banyak cabang dan semakin membuat makmur pula daerah di sekitarnya. Namun, manusia tidak belajar dari aliran sungai. Semakin banyak manusia, semakin serakah pula manusia sehingga alam dan lingkungan sekitarnya semakin dirusak. Manusia adalah bagian dari Bumi. Bumi bukan milik manusia, namun manusialah milik Bumi. Maka marilah kita mulai menghargai alam dengan menghargai air terlebih dahulu wujud penghargaan itu salah satunya dengan menjaga untuk tidak mencemarinya dan menghemat penggunaannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sungai sungai Panjang di ASEAN

Gunung Gunung Tinggi di Negara ASEAN (Bagian 1)